Jumat, 10 Januari 2014

TEKNIK NON TES PADA KURIKULUM 2013



Teknik penilaian non tes merupakan teknik yang dilakukan tanpa menggunakan tes. Penilaian ini berupa pengamatan yang dilakukan oleh subjek evaluasi secara teliti dengan tanpa menguji peserta didik. Selain itu, teknik non tes biasanya dilakukan untuk mengukur hasil belajar berupa sikap atau soft skill yang dikerjakan berdasarkan hasil pengetahuan atau pemahaman objek evaluasi.
Teknik ini menggunakan instrumen sebagai alat penilaiannya, yang dapat berupa angket, kuesioner, penilaian diri dan lain sebagainya. Hasil penilaian ini tidak diinterpretasikan ke dalam kategori benar salah, namun berupa deskripsi tentang sikap peserta didik.
TEKNIK DAN INSTRUMEN PENILAIAN
1.      Penilaian unjuk kerja
Penilaian ini digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu yang bersifat kerja (menuntut siswa melakukan aktivitas). Seperti praktek di laboratorium atau melakukan praktek lapangan ketika penelitian di lapangan.
Dalam penilaian unjuk kerja ini ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan agar kompetensi yang diharapkan dapat tercapai, diantaranya:
·         Langkah-langkah kerja yang dibuat diharapkan dapat dilakukan peserta didik.
·         Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut.
·         Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
·         Kemampuan yang akan dinilai diharapkan tidak terlalu banyak agar dapat teramati dengan jelas.
·          Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan pengamatan, untuk memudahkan memberi penilaian.
Teknik yang digunakan dalam penilaian ini dilengkapi dengan instrumen untuk memberikan hasil penilaian dari unjuk kerja. Ada beberapa jenis, diantaranya sebagai berikut:
a.      Daftar cek
Teknik penilaian ini digunakan apabila unjuk kerja yang akan dinilai masih bersifat sederhana, sehingga cukup dapat dinilai dengan diklasifikasikan menjadi dua kategori saja, yaitu ya (√) atau tidak (x). Dilengkapi juga dengan pedoman pengisian instrumen, juga dilengkapi dengan pedoman penilaiannya, serta mengkonversi dari nilai yang bersifat kualitatif menjadi nilai yang bersifat kuantitatif. Contoh daftar cek sebagai berikut:
Format Penilaian Unjuk Kerja dengan Daftar Cek
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Jumlah skor
Nilai
Aspek 1
Aspek 2
Aspek 3







Pedoman penilaian :
Jawaban ‘ya’ diberi simbol (√) dengan nilai 1
Jawaban ‘tidak’ diberi simbol (x) dengan nilai 0
Nilai =     jumlah skor       X 100
            Skor maksimal

b.      Skala penilaian
Dilakukan apabila kinerja peserta didik cukup kompleks sehingga tidak cukup hanya diklasifikasikan menjadi dua kategori ya dan tidak, tetapi ada nilai angka lain dengan menggunakan rentang, misalnya 1, 2, dan 3. Kategori nilai ini berdasarkan deskripsi yang ditentukan dalam memberikan penilaian. Misalnya, pekerjaan anak diberi nilai 3 apabila dikerjakan sempurna tanpa kesalahan.

Format Penilaian Unjuk Kerja dengan skala penilaian
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Jumlah skor
Aspek 1
Aspek 2
Aspek 3






Skor 4 = tanpa kesalahan
Skor 3 = ada sedikit kesalahan
Skor 2 = ada banyak kesalahan
Skor 1 = tidak melakukan kerja
                Skor maksimal= 12
Nilai =     jumlah skor       X 100
            Skor maksimal

2.      Penilaian sikap
Penilaian sikap ini digunakan untuk menilai aspek afektif pada siswa yaitu sikap. Sikap yang timbul pada proses pembelajaran merupakan akibat dari minat, motivasi atau perasaan siswa pada proses pembelajaran baik terhadap materi pelajaran yang disampaikan ataupun terhadap guru yang menyampaikan materi. Pembentukan sikap siswa dapat dikatakan memerlukan proses yang cukup panjang, dikarenakan sikap ini sebagai akumulasi dari pengalaman-pengalaman dalam belajar yang melalui proses kognitif dan psikomotorik.
Pengembangan skala sikap dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Menentukan objek sikap yang akan dikembangkan skalanya misalnya sikap terhadap kebersihan.
2)      Memilih dan membuat daftar dari konsep dan kata sifat yang relevan dengan objek penilaian sikap. Misalnya : menarik, menyenangkan, mudah dipelajari dan sebagainya.
3)      Memilih kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala.
4)      Menentukan skala dan penskoran.
Teknik penilaian sikap dapat dilakukan diantaranya dengan 3 cara, yaitu:
a.      Observasi perilaku
Dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus berisi semua hal yang terjadi yang berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah.
b.      Pertanyaan langsung
Bertanya secara langsung tentang sikap peserta didik berkaitan dengan sesuatu hal.
c.       Laporan pribadi
Teknik ini meminta peserta didik membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah, keadaan, atau hal yang menjadi objek sikap.
Instrumen yang digunakan dapat berupa pertanyaan atau pernyataan tentang sikap yang harus dijawab oleh siswa. Salah satunya dengan skala likert, yang menggunakan skala berupa data kualitati seperti setuju, tidak setuju, sangat setuju.
3.      Penilaian  proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Tugas tersebut berupa investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Tujuan dari penilaian ini untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada suatu mata pelajaran. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penilaian proyek yaitu, kemampuan pengelolaan data, relevansi atau kesesuaian dengan mata pelajaran, karya yang dihasilkan merupakan proyek yang dilakukan siswa.
Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir proyek. Tahapan yang akan dinilai, seperti pengumpulan data harus disiapkan terlebih dahulu oleh guru. Instrumen penilaian proyek dapat terdiri dari lembar pengamatan (observasi) dengan daftar cek (check list) dan skala rentang (rating scale).

4.      Penilaian  produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap keterampilan dalam membuat suatu produk yang dapat berupa produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar) dan lain-lain.
Tahap-tahap penilaian pada penilaian produk dapat diperhatikan pada tahap berikut:
·         Tahap persiapan, penilaian kemampuan dalam merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan suatu produk.
·         Tahap pembuatan produk (proses), penilaian kemampuan dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
·         Tahap penilaian produk (appraisal), penilaian produk yang dihasilkan.
Teknik penilaian produk dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
a.      Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk.
b.      Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk.

5.      Penilaian  portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan  informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu, yang berupa karya peserta didik.

6.      Penilaian  diri
Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor.

Minggu, 05 Januari 2014

TEKNIK NON TES DALAM EVALUASI PEMBELAJARAN


Dalam sebuah kegiatan pembelajaran dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan hasil atau informasi tentang sejauh mana tujuan dari pembelajaran yang tercapai. Dalam evaluasi ini meliputi dua aspek yaitu, pengukuran dan penilaian yang dilakukan secara sistematis. Hasil dari evaluasi ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam mengambil keputusan dalam setiap proses pembelajaran. Kegiatan evaluasi ini dapat dilakukan dengan 2 macam teknik yaitu teknik tes dan non tes. Dalam tulisan ini dibahas tentang teknik non tes.
A.     Pengertian
Teknik penilaian non tes ini yaitu berupa teknik yang dilakukan tanpa menggunakan tes. Penilaian ini berupa pengamatan yang dilakukan oleh subjek evaluasi secara teliti dengan tanpa menguji peserta didik. Selain itu, teknik non tes biasanya dilakukan untuk mengukur hasil belajar berupa sikap atau sofa skill yang dikerjakan berdasarkan hasil pengetahuan atau pemahaman objek evaluasi.
Teknik ini menggunakan instrumen sebagai alat penilaiannya, yang dapat berupa angket, kuesioner, penilaian diri dan lain sebagainya. Hasil penilaian ini tidak diinterpretasikan ke dalam kategori benar salah, namun berupa deskripsi tentang sikap peserta didik.
B.     Jenis-jenis
1.      Observasi (pengamatan)
Observasi atau pengamatan ini adalah penilaian yang dilakukan untuk mendapatkan informasi atau data dengan mengadakan pengamatan terhadap objek yang diamati sehingga didapatkan data yang dihimpun secara sistematis. Observasi ini dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi, salah satunya dengan daftar cek. Dilakukan oleh yang mengobservasi atau observer bisa guru atau pengawas atau yang lain, sebagai instrumen dalam menggunakan pengamatan. Selain dengan daftar cek, dapat juga dengan penjelasan secara deskriptif.
Observasi ini bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi suatu keadaan, berupa sikap atau peristiwa yang sebenarnya terjadi atau dibuat-buat. Mengukur perilaku kelas mulai dari interaksi guru dengan murid, sikap murid dalam proses pembelajaran, juga hal-hal yang terjadi dalam kelas. Mengukur atau menilai tingkah laku (sikap).
Karakteristik dari penilaian non tes pengamatan ini yaitu arah tujuannya jelas, bersifat ilmiah (logis, sistematis, rasional), praktis penggunaannya, juga dapat mengamati berbagai aspek yang diinginkan yang berkaitan dengan sikap.
Namun begitu, observasi ini mempunyai kekurangan juga kelebihan. Kelebihannya diantaranya, observasi ini cocok digunakan untuk mengetahui sikap objek yang diamati yang tidak bisa dilakukan dengan tes yang lain. Sedangkan kekurangannya, hal yang berkenaan dengan pribadi seseorang sulit diamati, atau juga ketika melakukan observasi, suasana objek pengamatan menjadi sedikit tegang sehingga berpengaruh pada jawaban objek evaluasi.
Kerangka observasi dibagi ke dalam 2 yaitu yang berstruktur atau tidak berstruktur. Berstruktur artinya berdasarkan kerangka langkah kerja artinya dibatasi dengan tujuan yang telah ditentukan yang dituangkan dalam kisi-kisi observasi yang jelas dan tegas baik secara isi atau keluasan materi yang dijadikan bahan pengamatan, sehingga observer tidak boleh mengamati hal lain kecuali apa yang ditentukan berdasarkan tujuan tersebut. Yang tidak berstruktur, pengamatan ini tidak berdasarkan kerangka kerja. Artinya tujuan menjadi satu-satunya batasan dalam proses pengamatan, karena tidak dibatasi isi dan keluasan materi yang diamati. Sehingga banyak aspek yang secara spontan dapat dimasukkan dalam proses pengamatan, namun tetap berdasarkan tujuan yang telah ditentukan.
Berdasarkan  teknik pelaksanaannya observasi dibagi ke dalam 3 jenis yaitu, observasi langsung, tidak langsung dan partisipasi. Observasi langsung yaitu ketika proses pengamatan berlangsung observer atau pengamat berada di tempat observasi, dan mengamati secara langsung. Observasi tidak langsung, pengamatan yang dilakukan dengan alat bantuan atau perantara lain misalnya dengan cctv, atau pun dengan teknik lain. Sedangkan, observasi partisipasi artinya pengamat atau observer terlibat secara aktif dalam situasi objek yang diamati.
2.      Wawancara (interview)
Wawancara yaitu suatu teknik untuk mengumpulkan data atau informasi dengan cara berkomunikasi dengan sumbernya. Baik secara langsung bertatap muka, ataupun dengan bantuan alat komunikasi lain.
Jenis wawancara terbagi ke dalam dua jenis, yaitu: berstruktur (terpimpin) dan tidak berstruktur (tidak terpimpin). Wawancara berstruktur yaitu melakukan kegiatan tanya jawab berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan yang dihimpun dalam panduan wawancara. Responden (orang yang diwawancara) hanya tinggal menjawab berdasarkan pilihan yang telah disediakan, misalnya ya atau tidak.
Wawancara tidak berstruktur atau wawancara bebas yaitu responden dapat menjawab pertanyaan berdasarkan pendapatnya sendiri tanpa dibatasi batasan-batasan yang ditentukan oleh evaluator.
Tujuan wawancara ini memperoleh informasi secara langsung agar dapat melengkapi suatu penyelidikan ilmiah sehingga memperoleh suatu data. Selain itu, untuk memperoleh data agar dapat mempengaruhi situasi atau orang tertentu.
Kelebihan dari teknik wawancara ini, evaluator dapat dengan lugas menanyakan suatu pertanyaan, dapat melihat sikap non verbal seperti apakah responden senang atau tidak suka. Selain itu, dalam wawancara dapat ditanyakan hal yang rumit juga mendetail. Apabila responden susah memahami pertanyaan dapat dijelaskan secara langsung oleh pewawancara. Sedangkan kelemahannya, dapat terjadi kesalahan melalui salah penafsiran dari jawaban yang diberikan oleh responden. Kelancaran wawancara bergantung pada kepandaian pewawancara.
3.      Angket (questionnare)
Angket berisi daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden) yang bertujuan untuk  memperoleh  data  mengenai  latar belakang  peserta  didik sebagai  salah satu bahan dalam menganalisis  tingkah laku dan proses belajar mereka, baik berupa kesulitan-kesulitan dalam belajar ataupun faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa.
Jenis angket ini terbagi ke dalam 3 jenis, yaitu:
        Tertutup,  kuesioner  yang alternative  jawaban  sudah ditentukan  terlebih dahulu. Responden hanya memilih diantara alternative yang telah disediakan.
         Terbuka, kuesioner ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan pandangan dan kemampuannya. Tanpa disediakan alternatif jawaban.
        Tertutup dan terbuka, kuesioner ini merupakan gabungan dari kedua jenis yang telah dijelaskan.  Dalam bentuk  ini, selain disediakan alternatif jawaban, juga diberi ruang untuk dapat menuliskan jawaban sesuai dengan pendapat responden,    apabila alternatif yang disediakan tidak mewakili keadaan yang bersangkutan.
Isi pertanyaan dalam angket meliputi 4 aspek, yaitu :
        Pertanyaan  fakta adalah kuesioner yang berisi pertanyaan  yang menanyakan  tentang keadaan yang sebenarnya, misalnya jumlah siswa dll.
        Pertanyaan  perilaku  adalah  kuesioner berupa pertanyaan yang diajukan untuk mengetahui tingkah  laku  seorang siswa dalam kegiatan di sekolah baik dalam proses belajar mengajar, juga interaksi dengan komponen-komponen sekolah.
        Pertanyaan    informasi   adalah   apabila   melalui   instrument   itu   guru   ingin mengungkapkan berbagai informasi.
        Pendapat dan sikap adalah kuesioner yang berkaitan dengan perasaan atau nilai-nilai  yang berhubungan  dengan  objek  yang dinilai.
4.      Pemeriksaan dokumen (documentary analysis)
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa  menguji  (teknik  non-tes)  juga  dapat  dilengkapi  atau  diperkaya  dengan  cara melakukan  pemeriksaan  terhadap  dokumen-dokumen,  misalnya:  dokumen  yang berisi informasi  mengenai  riwayat  hidup  (auto biografi). Selain  itu  juga  dokumen  yang  memuat  informasi  tentang  orang  tua peserta  didik, dokumen  yang memuat tentang lingkungan non-sosial yang dapat berpengaruh dalam kemajuan proses pembelajaran peserta didik.
5.      Studi kasus (case study)
Studi kasus adalah mempelajari individu dalam proses tertentu secara terus menerus untuk melihat perkembangannya. Misalnya peserta didik yang sangat cerdas, sangat lamban, sangat rajin, sangat nakal, atau kesulitan dalam belajar.
Studi kasus sering digunakan  dalam evaluasi,  bimbingan,  dan penelitian.  Studi ini menyangkut  penggunaan  data  yang  komprehensif  tentang  peserta  didik sebagai  suatu  dasar  untuk melakukan  diagnosis  dan mengartikan  tingkah  laku peserta didik tersebut. Dalam melakukan studi kasus, guru harus terlebih dahulu mengumpulkan data dari berbagai sumber dengan menggunakan berbagai teknik dan alat pengumpul data. Salah  satu  alat  yang  digunakan  yaitu  melakukan  wawancara secara mendalam. Jenis data yang diperlukan antara lain, latar belakang kehidupan, latar belakang keluarga, kesanggupan  dan kebutuhan,  perkembangan  kesehatan,  dan sebagainya.
Teknik studi kasus ini mempunyai kelebihan dapat mempelajari seseorang secara mendalam dan komprehensif, sehingga karakternya dapat diketahui selengkap-lengkapnya. Sedangkan kelemahannya  adalah hasil studi kasus tidak dapat digeneralisasikan,  melainkan  hanya berlaku untuk peserta didik itu saja.